Garuda Indonesia dan Aksi Boikot oleh Travel Agent Tiketing

Akhir-akhir ini maskapai penerbangan Garuda diterpa oleh berbagai reaksi dari gabungan travel agent di tanah Air. ASITA DPD Kalsel kabarnya telah melakukan aksi boikot penjualan Garuda per 30 Januari 2017, mereka tidak lagi menjual tiket Garuda Indonesia. Sementara itu Astindo DPD Kalsel mengambil langkah berbeda. Tulisan pendek ini menganalisa situasi ini dari sisi yang berbeda, yakni praktek persaingan usaha yang diatur dalam UU No. 5, tahun 1999.

Tanpa menuduh pihak tertentu, praktek usaha tidak sehat ini bermula dari dalam internal industri sendiri. Beberapa Online Travel Agent (yang juga merupakan travel agent offline dengan ijin resmi) melakukan pemotongan harga yang sangat tidak wajar, dengan kerugian di kisaran 10rb-300rb per tiket. Tindakan ini memiliki tujuan utama untuk memperluas pangsa pasar secara sangat cepat. Hasil akhirnya tidak dapat diketahui secara jelas, namun yang pasti investasi yang sudah digelontorkan bukanlah angka yang kecil.

Dalam perkembangan nya, beberapa airlines bergerak dan bertransformasi ke arah yang berbeda. Lion Air dan Sriwijaya Air memberikan insentif tambahan untuk menarik travel agent untuk termotivasi berjualan lebih banyak lagi. Termasuk juga Air Asia yang dulu nya tidak memberikan komisi travel agent, akhirnya mengubah kebijakan dengan memberikan komisi kepada travel agent. Tentu yang tidak kalah menarik adalah kebangkitan kembali Mandala Air yang sempat tutup, meskipun periode kebangkitan ini tidak bertahan lama.

Di pihak lain, Garuda Indonesia mengambil terobosan yang berbeda dengan peningkatan perluasan jangkauan usaha dan rencana penurunan besaran komisi travel agent. Dahulu, operasional airlines lebih berfokus pada penjualan melalui travel agent, dimana mayoritas pembelian merupakan transaksi offline. Ini merupakan kondisi sebelum tahun 2010, dimana tingkat peneterasi Internet di Indonesia masih di kisaran kurang dari 50 juta.

Dalam hal terobosan pemasaran, saat ini Garuda Indonesia telah berkembang dalam jangkauan pemasarannya mulai dari sisi penjualan retail, franchise gallery layanan, e-commerce, hingga penjualan paket perjalanan wisata secara lansung. Tidak dapat dipungkiri terobosan-terobosan ini tergolong berhasil dalam mendongkrak branding dan peningkatan reputasi Garuda Indonesia baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sepintas tidak ada yang salah dengan pengembangan kegiatan usaha ini, karena bagaimana pun juga "business either growing or dying (Steve Siebold)". Yang menjadi pertanyaan, adalah apakah terjadi persaingan usaha tidak sehat ketika kombinasi strategi pengembangan ini berjalan secara simultan dan terencana?

Menurut Undang Undang No. 5 tahun 1999 pengertian dari monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.

Mengacu ke dalam persidangan kasus monopoli Microsoft Windows di desktop yang sempat menjadi sorotan Internasional di sekitar tahun 2000, argumen yang mendasar adalah penggunaan sumber daya Microsoft dalam mendorong dominasi Internet browser dalam desktop PC, yang pada saat itu menguasai 99%+ pangsa komputer. Tindakan Microsoft diduga sebagai tindakan represif terhadap persaingan usaha dengan cara mempersulit pembuat Internet browser lain dalam membuat produk yang compatible. Salah satu alternatif keputusan dalam persidangan adalah membagi perusahaan Microsoft ke setidaknya perusahaan terpisah sehingga terbentuk hubungan yang terbuka dengan vendor external.

Sebagai pembanding dalam konteks Garuda Indonesia, bila kita jabarkan secara divisi, dapat terbagi antara lain: operasional inti, penjualan retail (offline), e-commerce, dan biro perjalanan wisata. Dalam model seperti ini, tiap unit usaha dapat disebut bersaing secara sehat apabila tidak terjadi subsidi baik antar unit maupun dari perusahaan induk.

Kini dengan rencana pengurangan komisi travel agent yang bisa berada di kisaran 2%, yang menjadi pertanyaan adalah apakah divisi retail Garuda (apabila dibentuk sebagai anak perusahaan terpisah), dapat beroperasi secara profitable dengan tanpa subsidi silang (transfer pricing)? Apabila tidak bisa, bukankah ini merupakan sebuah keniscayaan dimana terdapat potensi penyalahgunaan posisi dominan untuk melakukan monopoli secara tidak sehat?

Dari sisi e-commerce, Garuda Air juga telah secara agresif beriklan di berbagai media online, bekerja sama dengan berbagai Ads Network, seperti Google AdWords, Criteo, dan masih banyak lagi. Dengan tanpa mengesampingkan biaya operasional divisi e-commerce retail secara terpisah, biaya iklan online ini juga tidak murah. Untuk kata kunci yang populer, harga iklan online di Google bisa mencapai lebih dari 30ribu/klik.

Hal ini masih ditambah lagi dengan leverage yang didapatkan oleh Garuda Indonesia dengan berlakunya Perpres 4 tahun 2015 dan Inpres 1 tahun 2015, dimana sampai saat ini perjalanan dinas, baik di kementerian, lembaga negara, instansi maupun SKPD wajib menggunakan Garuda Indonesia.

Dalam menilai apakah Garuda Air telah melakukan prak monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, tentu tidak sesederhana ini. Perlu pengkajian lebih lanjut dalam hal pangsa pasar, entry barrier, potensi perilaku anti-persaingan, dan audit keuangan. Anda memiliki masukan lebih lanjut, monggo bisa di comment dan diskusi disini… (mohon tidak menggunakan kata-kata kebencian/tuduhan)

Referensi

  • http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_1999_5.pdf
  • http://www.antarakalsel.com/berita/43224/asita-kalsel-sepakat-lanjutkan-aksi-boikot-garuda?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=news
  • http://irmadevita.com/2013/praktik-monopoli-dan-persaingan-usaha-menurut-uu-no-5-tahun-1999/
  • http://daerah.sindonews.com/read/979124/151/perjalanan-dinas-wajib-pakai-garuda-1426821234
  • https://en.wikipedia.org/wiki/United_States_v._Microsoft_Corp

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.