Indonesia Growing Trends di 2018

Refleksi 2017

Beberapa highlight yang sudah kita lihat terjadi di tahun 2017, antara lain

  • Ekonomi stagnan di luar prediksi dan ini telah nyata dirasakan oleh banyak pelaku usaha, meskipun data dari pemerintah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang masih positif
  • Kenaikan biaya usaha, termasuk standard gaji, sewa, listrik, dsb membuat sektor usaha "model" menengah ke atas mengalami tekanan yang luar biasa
  • Usaha toko konvensional dan sejenisnya banyak yang gulung tikar, terutama ruko-ruko di jalanan utama banyak berstatus "sejul" (sewa/jual)
  • Mall yang beberapa tahun lalu sempat menjamur, kini mengalami weekend trend – yakni hanya ramai pengunjung di periode weekend saja, sementara weekdays (Senin – Kamis) sepi pengunjung.
  • Sosial media juga makin populer menjadi ajang debat yang mengarah pada kebencian berisu SARA (+ politik)

Perubahan Ekonomi dan Sosial di 2018

Tahun 2018 akan menjadi tahun yang sangat menantang bagi Indonesia, terutama dengan semakin panasnya iklim pilkada serentak di berbagai kota dan propinsi di Indonesia. Risiko persaingan politik tidak sehat dengan membawa isu SARA akan terus menghantui sepanjang tahun 2018 hingga 2019.

Namun di akhir tahun 2017, pemerintah beserta kepolisian Indonesia sudah mulai melakukan penertiban di media digital dimana dampak positif nya sudah sangat terlihat dengan berkurangnya secara drastis hoax kebencian yang ekstrem, terutama penyebaran media baik gambar maupun video yang secara nyata melawan hukum.

Salah satu kemajuan yang bisa dilihat di awal 2018 malah muncul di negara Jerman, dimana peraturan pemerintah memberlakukan denda yang cukup besar terhadap provider media sosial yang terbukti tidak melakukan screening maupun filtering secara aktif terhadap media "kebencian" yang disebarkan melalui platformnya.

Meski sepintas terlihat sebagai pukulan telak bagi pelaku industri IT secara  umum, pemikiran ini sebenarnya cukup logis terutama bila kita bercermin pada sejarah Jerman sendiri, dimana gerakan Nazi yang dimotori oleh diskriminasi SARA menjadi bahan gorengan politik yang sangat populer terutama pada masa periode ekonomi yang stagnan atau negatif.

Inisiatif penegak hukum yang sudah mulai masuk ke ranah digital harus disikapi secara positif terutama dengan pergeseran viewer attention secara global termasuk juga di Indonesia, dimana jumlah pembacara koran juga semakin tergerus oleh media masa berbasis Internet.

Di satu sisi positif adalah peningkatan jumlah netizen di Indonesia yang sangat signifikan, di sisi lain, jumlah website media masa di Indonesia juga semakin tinggi dan tidak lagi berlandaskan pada kode etik jurnalistik yang dahulu menjadi pegangan bagi semua jurnalis dalam menghadirkan berita. Berita hoax atau tendensius sudah mewarnai tidak saja grup chat namun juga berbagai website berita yang tidak mengikuti aturan jurnalistik secara umum.

Peningkatan standard gaji secara signifikan yang bermula dari tahun 2016, mengubah landscape industri secara signifikan, terutama di sektor manufacturing. Secara nasional juga terjadi jurang pemisahan antara masyarakat berpenghasilan cukup tinggi dengan sekelompok masyarakat lain yang tidak dapat masuk ke sektor pekerjaan formal, sehingga menambah jumlah pengangguran secara drastis, terutama di kalangan usia 40+. Terdapat kecenderungan kelompok ini menjadi entrepreneur baru namun hanya mengikuti trend persaingan usaha dengan menekan margin keuntungan sehingga mengakibatkan persaingan usaha yang monoton.

Prospek Penurunan di 2018

Usaha di posisi tangan kedua, seperti distributor, travel agent, dan jasa pengurusan dokumen akan gulung tikar kecuali berubah menjadi digital marketing expert.

Masalah utama dengan digital marketing adalah masuknya perusahaan startup dengan pendanaan yang berlebihan menyebabkan pemain lama gulung tikar lebih cepat.
Model bisnis bergaya subsidi sepertinya juga luput dari peraturan persaingan usaha tidak sehat di Indonesia.

Ke depannya sosial media akan menjadi buah simalakama karena di satu sisi membantu pengusaha berjualan secara lebih efisien dan efektif, namun di sisi lain juga menjadi sumber penyebaran informasi yg kurang kondusif untuk dunia usaha.

Opportunity / Kesempatan di 2018

Peningkatan jumlah pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2018 akan tetap bertumbuh secara signifikan year on year, sejalan dengan trend peningkatan akses Internet di Indonesia. Ini berakibat pada semakin tingginya porsi time-spent attention dari masyarakat pada media Internet dalam berbagai bentuk, sosial media, website, maupun online messenger.

Bentuk model bisnis menengah ke bawah akan terus berkembang di tahun 2018. Model bisnis menengah ke bawah bukan berarti hanya mentarget sektor menengah ke bawah, namun lebih pada model operasionalnya, dimana owner-operator akan menjadi faktor dominan.

Sudah menjadi jargon umum selama puluhan tahun bahwa faktor utama kesuksesan usaha ada di lokasi fisiknya, namun saat ini pengusaha model ini harus berfokus pada attention grabing pembelinya dimana media digital sudah mengambil porsi yang sangat signifikan. Usaha model digital lebih menitikberatkan pada jenis media dan model komunikasi target customer.

Deregulasi perijinan usaha juga menjadi faktor yg membuat faktor legalitas perusahaan saat ini tidak lagi sepenting era terdahulu. Faktor kepercayaan calon pembeli lebih mengarah pada reputasi online, terutama karena calon pelanggan tidak dapat melakukan verifikasi legalitas perusahaan secara mudah.

Model pungutan pajak di Indonesia yang secara legal memberikan perkecualian pada usaha kaki lima dan rumahan juga mendorong sektor ini untuk menyalip pemain yg lebih besar dengan biaya usaha yg tentu juga sudah terbebani dengan biaya usaha yang lebih tinggi.

 

Demikian rangkuman sementara untuk analisa dan peluang di tahun 2018, semoga sukses selalu dan penuh berkah bagi kita semua di tahun 2018 ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.