Internet Marketing dan Entrepeneur Training – Penipuan atau Berkah

Beberapa tahun belakangan ini layanan iklan Agenda Kota di Jawa Pos dan beberapa koran harian lainnya sering diisi dengan penawaran training, mentorship atau sejenisnya yang menjanjikan berbagai jenis pengetahuan untuk menjadi “lebih kaya”. Secara nalar, seringkali kita tidak percaya akan iklan-iklan ini karena “sounds too good to be true” (kedengaran terlalu bagus).

Seringkali kita berpikir, kalau memang “jurus” yang akan diajarkan benar-benar manjur dan dapat mendatangkan banyak uang, lantas mengapa penyelenggara bersusah payah mengadakan kelas yang belum tentu juga untung. Bukankah lebih baik mereka sibuk menggunakan teknik yang mereka ajarkan sendiri untuk mencari duit yang lebih banyak dengan lebih mudah.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat mengikuti beberapa seminar dan kelas berjenis ini. Dan berikut adalah poin-poin yang dapat saya simpulkan.

Harga “pertama” ditawarkan sangat murah, karena kebanyakan dari kelas yang ditawarkan bersifat “preview” atau setidaknya akan ada kelas-kelas berikutnya dengan harga jauh di atas kelas pada sesi “pertama”. Beberapa seminar yang telah saya ikutin ada yang menawarkan kelas gratis dimana kita akan diajakarkan XYZ techniques. Untuk kelas yang seperti ini, terkadang lebih baik untuk tidak datang sama sekali, karena anda hanya akan mendengarkan ceramah preview yang isinya menjual kelas lanjutan saja.

Tipe yang kedua adalah kelas sehari / setengah hari yang ditawarkan dengan harga cukup murah (di bawah 100rb). Untuk kelas jenis ini, apabila anda tertarik dengan topik yang ditawarkan, cukup bermanfaat untuk hadir. Setidaknya dengan ada nya biaya tersebut, pihak penyelenggara akan memberikan beberapa pengetahuan basic yang sepadan dengan harga yang diberikan. Anda pun juga secara pribadi tidak akan sungkan untuk menembakkan pertanyaan tajam kepada pihak penyelenggara (kan bayar nih kelas nya?)

Dalam sistem kelas yang berjenjang, secara otomatis kandidat “pengusaha sukses” akan tersaring dengan sendiri nya.

Tidak ada yang lebih berat daripada mengajari orang yang tidak ingin belajar – seringkali kalimat tersebut menjadi pedoman baku sebelum kita berusaha membantu orang lain. Dengan kelas yang berjenjang, pihak trainer akan dapat menyaring kandidat yang kurang fokus atau terampil dalam menggunakan ilmu yang telah di ajarkan. Di kelas-kelas yang advanced (level tinggi), trainer akan dapat lebih menfokuskan usaha nya pada sejumlah kecil kandidat yang memiliki peluang sukses lebih tinggi karena tekad mereka.

Namun di sisi lain, kelas berjenjang ini juga rawan dengan penipuan. Seringkali pihak penyelenggara tidak secara lansung memberikan pemaparan syllabus secara lengkap. Sebagai perbandingan, bila kita akan masuk ke Universitas atau pun sekolah umum, syllabus atau kurikulum adalah bagian yang wajib ada. Dengan paparan kurikulum, setidaknya kita dapat mengetahui hasil akhir apa yang akan kita dapatkan. Namun training “sukses” ini biasa nya disertai dengan berbagai “rahasia-rahasia” sukses yang hanya dapat diketahui setelah bayar.

Saya percaya memang banyak informasi yang bersifat rahasia dan manjur. Namun dalam konteks pembelajaran, hal ini seringkali sulit dihitung karena nilai dari suatu informasi sangat subyektif. Insider information dari dalam perusahaan Tbk memiliki nilai yang sangat tinggi bagi trader saham namun tidak akan bernilai sama sekali bagi group arisan yang anggotax2 nya tidak beraktifitas di bursa saham.

So, ‘moral of the story’ nya adalah kita harus secara jernih dapat menganalisa apakah “jurusan” yang ditawarkan oleh berbagai kelas “sukses” ini merupakan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Jangan sampai setelah membayar 2-3 kelas lanjutan, kita baru memutuskan tidak melanjutkan, entah karena kita sudah sibuk dengan pekerjaan yang sudah ada atau memang kita tidak ingin menekuni bidang tersebut. Sebaliknya, kita juga harus kritis dengan apa yang ditawarkan di kelas tersebut. Apakah sudah ada buku atau kelas konvensional lainnya yang serupa dan ditawarkan dengan lebih transparan (misal dilengkapi dengan syllabus/kurikulum seperti halnya kelas training konvensional yang sudah ada).

Bagaimana pendapat anda? Apabila anda pernah bergabung dalam kelas-kelas “sukses” seperti ini, please share your opinions.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.