Masih perlukah berlangganan koran edisi cetak?

Barangkali ini merupakan obrolan pertama saya yang bersifat "rant" atau bahasa baku nya "cakap angin" yakni obrolan yang bertujuan untuk menggugah diskusi lebih lanjut.

Di era modern seperti sekarang banyak orang meninggalkan edisi cetak karena berbagai alasan, ada yang karena menganggapnya kurang up-to-date, ada juga yang beralasan untuk menjaga lingkungan, mengurangi produksi kertas membantu mengurangi penggundulan hutan.

media_onlineBagi saya pribadi, edisi koran cetak seringkali mengesalkan karena cenderung di dominasi oleh kepentingan politik, terutama semenjak selesainya Pemilu 2014 yang lalu. Semenjak tahun lalu, kita tetap diributkan oleh kekuatan dua kubu yang aura nya masih bisa dirasakan sampai sekarang. Mulai dari perebutan kursi DPR sampai pecahnya banyak partai akibat partai yang masih menyimpan perasaan tidak suka kepada presiden terpilih. Terutama saat ini, dimana hampir semua pemilik media cetak telah memilih partai politik tertentu, sehingga ibaratnya setiap partai politik memiliki channel media cetak di negeri ini.

penjualkoranTerutama di kota Surabaya ini, cukup santer kabar dari beberapa tahun silam bagaimana beberapa media mogul di kota ini bersaing secara tidak sehat untuk menggusur pesaing-pesaingnya. Sampai saat ini pun, media koran nasional, seperti Koran Tempo sangat sulit untuk dapat masuk ke kota Surabaya. Pernah saya tanyakan pada staff Koran Tempo untuk cara berlangganan, mereka pun tidak berhasil mendapatkan slot pengiriman untuk pagi hari, sehingga koran baru sampai agak siangan dari waktu seharusnya.

Kemana pun kita mencari informasi, serasa ada kekuatan besar yang berusaha untuk memblokir kemampuan kita dalam berpikir secara obyektif dan jernih. Sehingga saat ini setiap kali membaca media koran/majalah, kita serasa wajib mengetahui pemiliki media tersebut, sehingga kita dapat memilah mengenai arah pembicaraan dari bahasan di koran / majalah tersebut, mana yang subyektif dan mana yg benar-benar obyektif.

Barangkali kekurangobyektifan dari media cetak lah yang seringkali membuat penggemar media muda merasakan kehilangan kepercayaan akan kemampuan redaksi. Dengan kata lain, saat ini kita lah yang harus menjadi redaksi dari perusahaan atau media masa yang akan datang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.